Life Is A Book - Berbagi inspirasi dan kreasi lewat kata. Mengisi lembaran kehidupan dengan cerita dan kisah. Sebuah kumpulan memoar kehidupan dalam jejak waktu dan ruang. Selamat menjelajah dan menikmati petualangan literasi dalam setiap alurnya - Life Is A Book

Kamis, 13 Januari 2011

Sepak Terjang Pemain Ke-12

Penulisan Blog Artikel Worldcupdistro
Tema : “Tim Bola Indonesia, Fight!”

Sepak Terjang Pemain Ke-12

Tak terasa AFF Suzuki 2010 sudah berakhir beberapa minggu yang lalu di tahun 2010. Begitu banyak kenangan dan harapan yang sudah timnas Indonesia ukir di ajang bergengsi se-ASEAN itu. Meskipun pada akhirnya, Malaysialah yang membawa pulang Piala AFF 2010 ke negerinya, setidaknya banyak hal berharga yang bisa kita petik dari ajang sepak bola negara ASEAN ini. Indonesia sudah memberikan kinerja terbaiknya, meskipun keberuntungan belum berpihak pada timnas Indonesia.

Secara tidak langsung, Piala AFF merupakan ajang yang membangkitkan semangat nasionalisme bangsa. Banyak suporter yang rela datang berbondong-bondong ke Jakarta, tepatnya ke Stadion Gelora Bung Karno untuk menonton secara langsung pertandingan timnas Indonesia di Piala AFF. Kecintaan terhadap timnas semakin menguat, terlebih ketika Indonesia berturut-turut menang telak atas timnas negara lain di babak penyisihan. Dukungan, pujian, dan apresiasi tak henti-hentinya dilontarkan suporter Indonesia mengiringi langkah Indonesia ke babak selanjutnya.

Mereka rela menggelar tenda, menginap, bahkan mengantri sejak pagi demi mendapatkan tiket pertandingan Indonesia di ajang Piala AFF. Harga tiket yang mahal dan banyaknya calo yang beredar di sekitar stadion tidak menyurutkan niat mereka untuk menonton langsung tim kesayangan mereka. Meskipun mereka hanya berperan sebagai penonton, setidaknya mereka sudah memberikan semangat dan motivasi pada para pemain timnas untuk berjuang sampai titik akhir penghabisan. Penonton menggiring timnas menuju babak final sebagai pemain ke-12 yang handal.

Tak ketinggalan juga di lingkungan rumah saya. Jalanan terlihat begitu lengang di malam Minggu ketika pertandingan Indonesia melawan Malaysia digelar. Masyarakat begitu antusias mengikuti perkembangan timnas. Sekalipun Indonesia menorehkan prestasi yang kurang memuaskan di babak final pertama di Malaysia dengan kekalahan 0-3, suporter yang rela datang ke Malaysia secara langsung dengan tarif yang relatif mahal tidak tampak kecewa. Mereka tetap semangat dan berusaha memberikan dukungan mereka pada timnas Indonesia.

Solidaritas masyarakat untuk mendukung timnas Indonesia pun berdatangan dari situs jejaring sosial, Twitter. Masyarakat menjadikan insiden laser yang dilakukan para pendukung timnas Malaysia sebagai trending topic di Twitter mengalahkan isu lainnya di seluruh dunia. Dengan setia, mereka membela Indonesia dengan menuliskan status, tweet, dan notes inspiratif untuk menggugah semangat timnas. Mereka ingin Indonesia bangkit dari keterpurukan karena masih ada medan pertempuran akhir yang harus dihadapi.

Sebagai suporter timnas di ajang Piala AFF, saya merasakan begitu besar animo dan euforia yang ada di masyarakat terhadap sepak bola timnas. Larisnya penjualan kaos timnas bernomor punggung 9 dan 17 yang mewakili Christian Gonzales dan Irfan Bachdim karena kepiawaian mereka dalam menggiring bola menuju gawang lawan menjadi keuntungan tersendiri bagi para penjual kaos timnas. Munculnya Irfan Bachdim sebagai idola baru di kalangan kaum Hawa yang notabene tidak menyukai sepak bola. Begitu banyak perubahan yang terjadi ketika Piala AFF bergulir.

Presiden pun tak ingin kalah dengan masyarakat untuk menyaksikan secara langsung sepak terjang timnas Indonesia di tribun VVIP. Beliau ingin memberikan dukungan penuh pada timnas Indonesia agar dapat menorehkan prestasi secara maksimal. Hampir semua orang yang saya temui tak henti-hentinya membahas permainan timnas di ajang Piala AFF. Piala AFF seolah telah menyedot perhatian masyarakat Indonesia dari segala permasalahan dan konflik yang berkepanjangan.

Tak ketinggalan saya juga memuji permainan timnas yang cantik. Saya terkesan dengan permainan timnas yang apik, rapi, dan displin. Kerja sama, semangat, dan daya juang timnas sangat jauh meningkat dibandingkan kondisi timnas sebelumnya. Saya acungkan jempol pada timnas yang berhasil mengangkat kembali citranya sebagai tim sepak bola yang tidak boleh diremehkan begitu saja oleh masyarakat dunia. Pergantian pelatih timnas yang santer dilakukan, prestasi timnas yang buruk, dan berbagai permasalahan seputar timnas semua seolah menguap dan tergantikan dengan sebuah permainan yang boleh dikatakan out of the box dari timnas Indonesia sebelumnya. Begitu banyak perubahan yang terjadi dalam permainan timnas di ajang Piala AFF.

Sekalipun Piala AFF memberikan hasil yang kurang memuaskan dan menempatkan Indonesia di posisi runner-up, namun setidaknya ada banyak alasan bagi saya sebagai penonton untuk bangga terhadap timnas Indonesia. Bukankah menang atau kalah adalah hal biasa dalam sebuah kompetisi? Yang membedakan adalah ada tim yang membawa pulang hadiah dan tidak. That’s all yang bisa kita simak dari Piala AFF. Malaysia memang mendapat hadiah 100.000 dollar AS, namun tidak ada yang dapat menyangkal Malaysia tidak menjunjung tinggi sportivitas dengan menyalakan laser untuk mengganggu permainan timnas Indonesia.

Berbeda dengan Indonesia. Meskipun kalah dalam Piala AFF, setidaknya kita sebagai suporter sudah belajar sebuah hal berharga, yakni kebesaran hati. Bagaimana kita secara lapang dada menerima kekalahan timnas dengan tidak mengeluarkan caci maki, kata-kata menyakitkan, aksi brutal dan pengrusakan, dan berbagai hal anarkis lainnya. Bukankah itu pelajaran berharga yang bisa kita petik?

Bagi timnas Indonesia, kekalahan di ajang Piala AFF ini sebenarnya hanyalah jembatan untuk melangkah ke ajang kompetisi bergengsi lainnya di dunia. Timnas kita masih harus belajar bagaimana cara untuk meredam emosi dan tidak terpengaruh pada permainan lawan. Timnas harus belajar bekerja sama dan tidak egois dalam memerankan permainannya masing-masing. Sebelas pemain di lapangan harus bekerja sama satu dengan yang lainnya agar tercipta serangan yang tangguh dan tentunya membuahkan gol. Tak ketinggalan kita sebagai pemain ke-12 yang membakar semangat dan memberi timnas motivasi untuk bangkit.

Seiring berakhirnya Piala AFF 2010, rasanya sepak terjang kita semua sebagai pemain ke-12 masih belum berakhir. Masih ada banyak kompetisi sepak bola menanti timnas kita di masa mendatang. Masih banyak kesempatan untuk membuktikan kualitas timnas kita jauh lebih baik dibandingkan di ajang Piala AFF. Tatkala timnas kembali beraksi, mari kita siapkan diri, jiwa, dan raga kita untuk memberikan timnas suntikan energi baru. Menjadi pemain ke-12 yang tidak hanya memuji timnas ketika menang, tetapi juga mendukung timnas ketika kalah.

Indonesia, janganlah bersedih. Tim Garuda masih akan terus berkibar untuk membuktikan ketangguhannya, kini dan nanti! Tim Bola Indonesia, Fight!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar