Life Is A Book - Berbagi inspirasi dan kreasi lewat kata. Mengisi lembaran kehidupan dengan cerita dan kisah. Sebuah kumpulan memoar kehidupan dalam jejak waktu dan ruang. Selamat menjelajah dan menikmati petualangan literasi dalam setiap alurnya - Life Is A Book

Sabtu, 08 November 2014

Melihat Ranah Minang Lebih Dekat

Lomba Menulis Artikel Asia Wisata
Tema: "Wisata Indonesia dan Impianku"




Melihat Ranah Minang Lebih Dekat


            Alkisah hidup seorang anak bersama ibunya di desa terpencil yang berada di pesisir pantai Sumatera Barat. Mereka hidup dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Melihat ibunya membanting tulang siang dan malam untuk membesarkan dirinya, anak ini kemudian memutuskan untuk pergi merantau. Awalnya ibunya melarang, namun anak ini bersikeras hingga akhirnya ia pergi merantau dengan kapal seorang saudagar.  

            Di tengah perjalanan, kapal saudagar tersebut diserang oleh bajak laut. Semua barang dagangan dirampas dan orang-orang yang ada di kapal dibunuh. Anak ini beruntung karena bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup kayu. Setelah bajak laut itu pergi, kapal yang ditumpangi anak itu akhirnya terdampar di sebuah pantai setelah sekian hari terkatung-katung di tengah laut.

            Dengan tenaga yang tersisa, anak ini kemudian pergi ke desa terdekat dengan pantai. Ia bekerja dengan ulet dan gigih hingga akhirnya menjadi kaya raya dan bisa membeli banyak kapal dagang. Ia pun mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya. Rupanya berita anak itu menjadi kaya raya terdengar juga ke telinga ibunya. Ibunya berharap anak itu segera pulang kembali ke kampung halamannya.

            Suatu hari, kapal dagang anak itu singgah di kampung halamannya. Ibu anak itu menyadari bahwa anak itu adalah anaknya sendiri. Ia pun berlari, menghampiri, dan memeluk anak itu ke dermaga. Namun anak itu marah dan tidak mengakui wanita tua itu ibunya sendiri karena merasa malu dengan istri dan anak buahnya. Anak itu pun kembali berlayar dan hati ibu kandung anak itu pun sakit.

            Ibu itu pun berdoa dan mengutuk jika anak itu memang anaknya, ia dikutuk menjadi batu. Tak lama setelah itu, kapal dagang yang ditumpangi anak itu pun karam menabrak batu karang. Tubuh anak itu berubah menjadi kaku. Di sisa akhir kehidupannya, anak itu hanya bisa menyesali perbuatannya sebelum akhirnya menjadi batu. Batu anak itu pun bisa ditemukan kini di Pantai Aie Manih atau Pantai Air Manis.

            Legenda Malin Kundang yang terkenal dari Padang, Sumatera Barat itu pasti pernah kita dengar saat duduk di bangku SD. Cerita rakyat yang sarat pesan moral ini boleh dikatakan salah satu daya tarik wisata Padang yang membuat saya ingin berkunjung. Melihat batu Malin Kundang tentu memberikan sebuah pesan simbolik bahwa sesukses apapun kita, tak ada ada artinya tanpa restu dan doa dari orang tua yang telah merawat dan membesarkan kita selama ini.

            Tentu Padang tidak hanya berbicara tentang Malin Kundang semata, banyak sekali hal yang membuat saya menjadikan Padang sebagai destinasi wisata impian. Rasa penasaran saya terhadap Padang juga muncul melihat sajian makanan khas Padang yang ada di seluruh penjuru Indonesia. Rendang, ayam pop, daun singkong, dan sambal hijau yang menggoyang lidah menjadikan saya penasaran dengan kuliner di tempat asalnya. Saya ingin mencicipi the real taste of Padang tentunya.   

            Tak kenal, maka tak sayang. Bagi saya, Museum Adityawarman adalah tempat yang cocok untuk mengenali seperti apa Padang itu. Museum yang sudah berdiri sejak 1974 ini menjadi ikon Padang dengan rumah adatnya yang menyimpan berbagai benda bersejarah Padang dari masa ke masa. Boleh dikatakan tempat ini adalah taman mininya orang Padang yang paling terkenal karena koleksi kebudayaannya yang sangat kental. Saya pun bisa mengenal seperti apa Padang lewat destinasi ini.

            Hal lain yang ingin saya lihat di Padang adalah pantai-pantainya yang eksotis dan mendunia. Sebut saja, Pantai Nirwana yang indah saat menikmati matahari terbenam, Pantai Pasir Jambak yang tenang dan tentram, serta Pantai Padang yang cocok untuk dikunjungi bersama keluarga. Saya bisa menikmati keindahan pantai yang memukau sambil melepaskan berbagai pikiran yang membelenggu dari kesibukan sehari-hari.

            Tak ketinggalan Air Terjun Tingkat Tiga yang sangat memukau, sekaligus menantang karena akses menuju destinasi ini sangat sulit dicapai. Saya bisa menguji jiwa petualangan saya dengan berkunjung ke Air Terjun Tingkat Tiga yang terletak di Desa Cendikar. Ada lagi Lembah Anai yang sangat terkenal dan menjadi maskot pariwisata Padang yang wajib dikunjungi. Lembah yang mempunyai 3 air terjun setinggi 35 meter ini terletak 60 km dari kota Padang. Nuansa damai dan teduh pun akan terasa tatkala saya bisa menapakkan kaki di tempat ini.

            Satu destinasi lain yang tak boleh dilewatkan adalah Sitinjau Lauik yang sering disebut Padang Scenic Point. Kita bisa melihat pemandangan kota Padang dari atas secara menyeluruh. Bahkan kita bisa melihat Samudera Hindia di kejauhan. Pemandangan yang luas dan hijau pun menjadi permadani hidup yang sangat elok dan tak terlupakan untuk dilihat. Saya ingin sekali rasanya melihat keindahan kota Padang dari atas Sitinjau Lauik ini.

            Melihat berbagai pesona, keajaiban, dan keindahan yang dimiliki Padang ini rasanya saya tak perlu ragu untuk menjadikan Padang sebagai destinasi impian saya. Destinasi yang dikenal dengan nama Ranah Minang ini bukan hanya berbicara tentang kulinernya yang mendunia, tetapi juga legenda, pantai, dan catatan historisnya yang memukau. Saya pun seolah dibuat terhanyut oleh keindahan Padang yang tidak kalah menariknya dengan destinasi wisata luar negeri.

Semoga suatu saat nanti, saya bisa duduk santai sambil melihat Jembatan Siti Nurbaya yang elok dihiasi kapal kayu sambil menikmati matahari tenggelam di sore hari di Padang.



~ oOo ~