Life Is A Book - Berbagi inspirasi dan kreasi lewat kata. Mengisi lembaran kehidupan dengan cerita dan kisah. Sebuah kumpulan memoar kehidupan dalam jejak waktu dan ruang. Selamat menjelajah dan menikmati petualangan literasi dalam setiap alurnya - Life Is A Book

Minggu, 17 Agustus 2014

Siaga Apps : Upaya Aktif dan Preventif Sadar Bencana Berbasis Teknologi Informasi

Lomba Blog Kebencanaan 2014
Tema : “Berdamai Dengan Bencana”

Siaga Apps : Upaya Aktif dan Preventif Sadar Bencana Berbasis Teknologi Informasi

I. Prolog
   
Hari itu, hari Minggu. Sama seperti minggu-minggu sebelumnya, semua orang melakukan aktivitasnya masing-masing dalam mengisi liburan akhir pekan. Ada yang memilih berwisata ke pantai, mal, atau sekadar duduk santai di teras rumah. Para ibu asyik memasak dan bergosip dengan tetangga. Sementara itu, para bapak duduk santai di teras rumah sembari membaca koran dan menyeruput teh manis hangat. Anak-anak riang gembira berlarian bermain bersama teman-teman mereka di lapangan.
   
Ya, semua terjadi seperti biasa. Tak ada yang spesial pagi itu sebelum gempa besar terjadi di Banda Aceh. Para ibu, bapak, dan anak-anak berlarian keluar rumah karena takut tertimpa reruntuhan bangunan akibat gempa. Berbeda dengan turis yang bermain di pantai, mereka justru asyik menikmati air laut yang semakin lama, semakin surut ke tengah. Alhasil, mereka berlari mengejar air. Tanpa mereka sadari, bahaya besar sedang mengintai. Tak ada yang tahu, percaya, atau menduga bahwa tsunami akan terjadi di Serambi Mekah.
   
Beberapa menit kemudian, air bah itu menerjang Banda Aceh dengan kecepatan ratusan kilometer per jam. Orang-orang berlari ketakutan mencoba menyelamatkan diri, namun apa daya semua sudah terlambat. Mereka terhempas gelombang tsunami yang dahsyat dan mematikan. Setelah air bah itu surut, yang tersisa hanyalah tubuh tak bernyawa bergelimpangan di mana-mana, bangunan yang hancur, serta kepedihan masyarakat Banda Aceh yang selamat dan kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup mereka.
   
Kita tak pernah tahu kapan, di mana, dan bagaimana bencana datang dalam kehidupan kita. Siapa sangka hari Minggu itu, hari yang seyogianya menjadi hari istirahat yang sempurna setelah seminggu beraktivitas, justru berujung pada malapetaka. Semua terjadi karena kita tak siap menghadapi bencana. Tentu peristiwa yang terjadi 10 tahun lalu itu hendaknya menjadi sebuah refleksi dan introspeksi bagi kita dalam menyikapi bencana sebagai bagian dari realitas letak geografis Indonesia.

II. Indonesia dan Bencana
   
Sebagai wilayah yang dianugerahi letak geografis yang strategis dari segi perdagangan maritim dunia, Indonesia juga diberi “bonus” sebagai daerah pertemuan 3 lempeng tektonik besar, yakni lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasific. Alhasil, tumbukan-tumbukan yang terjadi di perut Bumi memicu terjadinya berbagai bencana di Indonesia. Sebut saja, gempa bumi, letusan gunung berapi, tsunami, banjir, dan lain sebagainya. Julukan negara 1.000 bencana pun lekat disematkan pada Indonesia.  
   
Tak heran rasanya jika sikap sadar bencana menjadi sebuah keharusan mengingat bencana menjadi “teman abadi” yang akan selalu menemani Indonesia. Kita tak ingin lagi tsunami Aceh, letusan Gunung Sinabung, letusan Gunung Merapi, banjir bandang Manado, gempa bumi, dan berbagai bencana lainnya menelan banyak korban jiwa karena ketidaktahuan dan ketidaksadaran masyarakat akan adanya bencana yang mengintai.
   
Kita tak ingin lagi melihat tangis anak yang ditinggal keluarganya akibat bencana. Kita tak ingin lagi merasakan getirnya berjuang di pengungsian menyambung hidup dari hari ke hari tanpa adanya kepastian. Kita tak ingin lagi melangkah dalam bayang-bayang ketakutan dan trauma mendalam akibat bencana. Kita tak ingin lagi mendengar kumandang “Berita Kepada Kawan” di televisi menghiasi duka mendalam pasca bencana. Kita sudah jemu mengecap semua derita dan sengsara akibat bencana.

III. Siaga Apps
Melihat perkembangan zaman dan teknologi, sudah seyogianya kita berbenah dalam mempersiapkan diri lebih matang dalam menghadapi bencana. Bencana tidak lagi dipandang sebagai hantu yang muncul tiba-tiba, melainkan gejala alam yang terukur, terprediksi, dan teruji. Jika selama ini, jaringan seismograf menjadi salah satu instrumen peringatan dini jika terjadi tsunami akibat gempa bumi yang dikelola Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kini setiap orang mempunyai “seismograf”nya masing-masing, yakni Siaga Apps.

Siaga Apps menjadi sebuah terobosan baru dalam menumbuhkan sikap sadar bencana secara aktif dan preventif di bidang teknologi informasi. Jika selama ini, BMKG menjadi satu-satunya sumber rujukan masyarakat jika terjadi potensi bencana, kini setiap orang mempunyai alarm sendiri dalam mendeteksi bencana yang ada di sekitar mereka. Kini tak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak peduli atau acuh terhadap potensi bencana yang mengintai daerah yang kita tempati.
Sama halnya dengan aplikasi lain yang bisa diunduh secara gratis melalui sistem operasi berbasis Android, iOS, Windows, dan Symbian, Siaga Apps ini bisa dirancang pemerintah dengan bekerja sama dengan anak muda penggemar IT sebagai alat pendeteksi bencana yang canggih, informatif, dan tepat waktu. Aplikasi ini bisa digunakan untuk memberi alarm bagi masyarakat tatkala terjadi potensi gempa bumi, tsunami, banjir, badai, dan lain sebagainya secara ilmiah dan akurat.

Cara kerja Siaga Apps fleksibel dan disesuaikan dengan letak geografis si pengguna aplikasi. Aplikasi yang terkoneksi dengan Global Positioning System (GPS) ini akan menampilkan arah, jenis, dan waktu terjadinya potensi bencana, sehingga kita bisa bersiap-siap untuk pindah ke lokasi yang lebih aman tanpa harus menunggu pengumuman atau evakuasi BMKG secara manual. Diharapkan kehadiran Siaga Apps ini mampu meminimalisir dan mencegah timbulnya korban jiwa akibat bencana yang terjadi di tanah air.

Tak hanya itu, Siaga Apps juga akan memberikan alarm secara otomatis bagi para penggunanya jika terjadi potensi bencana. Maka dari itu, tak ada lagi alasan bagi kita untuk tetap tinggal di rumah jika bencana sudah hadir di depan mata dan diperingatkan secara jelas. Selain mudah, Siaga Apps juga sangat praktis untuk dioperasikan. Anak muda Indonesia yang gemar dengan teknologi informasi pastilah senantiasa memperbaharui konten dan fitur Siaga Apps agar lebih canggih dan mudah digunakan. Dengan demikian, Siaga Apps selalu prima dan up to date.      

IV. Refleksi
   
Bencana memang sesuatu yang tidak kita harapkan keberadaannya, namun tidak bisa kita tolak kehadirannya. Maka dari itu, sadar, siap, dan siaga bencana menjadi sebuah keniscayaan bagi masyarakat Indonesia dalam menyikapi takdir Indonesia yang berada di kawasan rawan bencana.

Kehadiran Siaga Apps sebagai upaya aktif dan preventif sadar bencana berbasis teknologi infomasi memang bisa meminimalisir timbulnya korban jiwa, jika diikuti partisipasi aktif dari masyarakat dalam mencegah dan mengatasi bencana yang timbul, baik dari segi lingkungan maupun masing-masing individu. Kita bisa belajar dari Jepang yang membuat material rumah tahan gempa diikuti dengan sikap tenang tatkala terjadi bencana. Tatkala dua hal ini digabungkan, maka kita yakin bencana tidak lagi menjadi malapetaka yang menghancurkan segalanya.
Semoga pemerintah dan mahasiswa IT Indonesia bisa berkolaborasi dan berelaborasi untuk membuat Siaga Apps dengan dukungan BMKG sebagai lembaga yang mempunyai kompetensi dalam manajemen bencana, sehingga kemajuan teknologi informasi tidak serta merta dipandang negatif, melainkan mampu membawa manfaat bagi keselamatan masyarakat, khususnya di Indonesia. Mari berdamai dengan bencana bersama Siaga Apps!

~ oOo ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar